Mantra panca sembah atau yang sering disebut mantra kramaning sembah adalah kumpulan mantra - mantra yang diucapkan oleh seseorang yang beragama hindu saat melakukan persembahyangan di tempat - tempat suci seperti pura dan merajan. Ada 5 jenis mantra panca sembah yang harus dikuasai oleh seseorang yang beragama hindu baik pemangku maupun orang Panca Sembah Dan ArtinyaPanca sembah diucapkan saat persembahyangan bertujuan untuk meminta perlindungan dan jalan terbaik kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selalu dituntun di jalam yang benar dan bisa melewati semua rintangan yang ada di dalam diri setiap Panca Sembah Atau Mantra Kramaning SembahBerikut ini merupakan mantra kramaning sembah lengkap dan artinya serta mantra panca sembah untuk pemangku di pura maupun di merajan. Mantra panca sembah antara pemangku dan orang biasa semuanya sama dan panca sembah di pura dan panca sembah untuk di merajan juga sama tidak ada perbedaannya. Silahkan disimak urutan mantra panca sembah dan artinya berikut Mantra Panca Sembah Bait PertamaPersiapanTanpa menggunakan bunga sebagai mantra atma tatwatma suddhamam tuhan, atma atau jiwa dan kebenaran, bersihkanlah tangan kosong atau sembah puyung, silahkan cakupkan tangan dan pusatkan pikiran serta ucapkan mantra panca sembah pertama Mantra Panca Sembah Bait KeduaPersiapanMenggunakan bunga berwarna aditya sya param jyoti, Rakta teja namo stute, Sweta pangkaja madyasta, Bhaskara ya namo stute, Om rang ring sah parama cintya yenamah tuhan, Sinar Hyang Surya yang maha hebat, Engkau berwarna merah, hamba memuja Engkau, Hyang Surya yang berstana di tengah - tengah teratai putih, Hamba memuja Engkau yang menciptakan sinar matahari Panca Sembah dengan menggunakan bunga berwarna putih dan ditujukan ke Ida Sang Hyang Widhi yang dalam wujudNya sebagai Hyang Surya atau Siwa Mantra Panca Sembah Bait KetigaPersiapanKuwangen atau bunga warna nama dewa adhi sthanaya, Sarwa wiapi wai siwa ya, Padmasana eka pratisthaya, Adhanareswaraya Tambahan Saat SaraswatiOm brahma putri maha dewi, Bramanyam brahma wandhini, Saraswati sayadnyanam, Pradnyana ya saraswati, Om saraswati dipata ya namah Tambahan Saat Di Pura Khayangan Jagat Om brahma wisnu iswara dewam, Jiwat manam tri lokanam, Sarwa jagat prastiyanam, Sawra roga wisnu Tambahan Saat Di Pura Mrajapati atau Pura DalemOm ang brahma prajapati sresta, Swayem bhu paradham guru, Patmayoni catur watra, Brahma skayem unceyate, Om rang ring syah parama cintya ye namah swahaArtinyaYa Tuhan, kepada dewata yang bersemayam pada tempat yang luhur, kepada Hyang Siwa yang berada di mana - mana, kepada dewata yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai di suatu tempat, kepada Ardhanaresvari hamba kramaning sembah bait ke 3 ini bersembahyang dengan kawangen dan jika tidak membawa kawangen bisa memakai bunga panca warna atau bunga warna - warni. Mantra panca sembah bait ke 3 ini ditujukan kepada istadewata pada hari dan ditempat persembahyangan yang sedang Mantra Panca Sembah Bait KeempatPersiapanKawangen atau Bunga Panca WarnaMantra Om anugraha mano hara, Dewa data nugrahaka, Archanam sarwa pujanam, Namah sarwa nugrahaka, Om dewa dewi maha sidhi, Yajnanga nirmalatmaka, Laksmi sidhis ca dirgahayu, Nirwigenha sukha werdhis ca, Om sryam bhawantu, Shukham bhawantu, Purnham bhwantu, Om ksama sampurna ya namah tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Kemahasiddhian pada dewa dan dewi berwujud jadnya suci. Kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan sembah di pura ini menggunakan sarana berupa kwangen dan jika tidak membawa kawangen bisa menggunakan bunga panca warna atau bunga warna Mantra Panca Sembah Bait KelimaPersiapanTanpa menggunakan sarana bunga sembah puyungMantraOm dewa suksma parama cintya ya namah swaha, Om santih, santih, santih, omArtinyaYa Tuhan, Hamba memuja Engkau dewataa yang tidak terpikirkan, maha tinggi dan maha gaib. Ya Tuhan, anugrahkan kepada hamba kedamaian, damai di hati, damai di dunia dan damai kramaning sembah yang terakhir ini hanya berupa sembah puyung atau sembah tanpa menggunakan bunga - bungaan dan sebagainya. Itulah mantra panca sembah pemangku maupun orang - orang yang ingin bersembahyang di pura maupun ring merajan masing - masing. Untuk pengucapannya silahkan cari video tentang mantra panca sembah mp3 agar tahu bagaimana cara mengucapkan mantra kramaning sembah / mantra panca sembah bali dengan benar dan tepat.
Setelahselesai memuja Trisandya dilanjutkan Panca Sembah. Kalau tidak melakukan persembahyangan Trisandya (mungkin tadi sudah di rumah) dan langsung memuja dengan Panca Sembah, maka setelah membaca mantram untuk dupa langsung saja menyucikan bunga atau kawangen yang akan dipakai muspa.
- Mantra Kramaning Sembah atau biasa disebut dengan Mantra Panca Sembah merupakan bacaan yang diucapkan ketika selesai melakukan tradisi Puja Pitara. Dimana yang harus dilakukan pertama kali sebelum melakukan tradisi Puja Pitara ialah dengan melakukan ritual permohonan titha suci untuk peserta yang hadir. Berdasarkan buku Tradisi Cinandi di Banyuwangi, karya Dr. Poniman seperti dilansir 1/4/2022. Hal pertama kali yang dilakukan untuk ritual permohonan tirtha suci ialah tirtha penglukatan, yakni pensucian diri manusia dengan cara dipercikkan air oleh pemangku yang dilakukan sebanyak tiga kali kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan. Ketika pemangku melaksanakan ritual memohon tirtha, maka peserta melantunkan kidung-kidung pengiring pemujaan. Kidung yang pertama digunakan adalah Asmorondono bowo Dandanggulo, yang kemudian dilanjutkan dengan Kidung Kinanti. Jika tirtha telah selesai dimohonkan, berikutnya adalah melaksanakan sembah bhakti. Jika sudah, ritual kembali dilanjutkan dengan melakukan kramaning sembah sambil memercikkan tirtha wangsuhpada. Setelah mendapatkan tirtha wangsuhpada, barulah melakukan pengucapan mantra panca sembah secara bersama-sama yang dipimpin oleh Romo Mangku. Berikut ini adalah urutan Panca Sembah atau Kramaning Sembah yang harus dilakukan, lengkap dengan mantra atau doa serta artinya. Bacaan Serta Cara Pelaksanaan Panca Sembah Berikut ini Tata Cara serta Bacaan Pelaksanaan Panca Sembah yang harus kalian ikuti ketika kalian akan melaksanakan Panca Sembah tersebut 1. Sembah Tanpa Sarana atau Sembah Puyung Isi Mantra OM , ATMA TATTVATMA SUDDHAMAM SVAHA. Terjemahan Om, Atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba. 2. Sembah ke dua yaitu Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Aditya dengan sarana bunga putih. Isi Mantra OM, ADITYA SYA PARAM JYOTI,RAKTA TEJA NAMO STUTE,SVETA PANKAJA MADHYASTABHASKARA YA NAMO STUTE. Terjemahan Om, Sinar Surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah, hormat pada- Mu. Engkau berada di tengah- tengah teratai putih. Hormat padaMu pembuat sinar. 3. Sembah ketiga menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan Sara Kwangen atau bunga warna-warni. Isi Mantra OM, NAMO DEVA ADHI STHANAYA,SARVA VIAPI VAI SIVA YA,PADMASANA EKA PRASTISTAYA,ARDHANARESVARYAI NAMONAMAH. Terjemahan Om, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Ciwa yang sesungguhnyalah berada dimana-man. Kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanareswari hamba menghormat 4. Sembah ke empat Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai pemberih anugerah, dengan sarana kwangen atau bunga warna-warni. Isi Mantra OM , ANUGRAHA MANO HARA,DEVA DATTANUGRAHAKA,ARCANAM SARVA PUJANAM,NAMAH SARVA NUGRAHAKA,OM DEVA DEVI MAHA SIDDHI,YAJNANGA NIRMALATMAKA,LAKSMI SIDDHIS CA DIRGHAYUH,NIRVIGHNA SUKHA VRDDHIS CA. Terjemahan Om, Engkau yang menarik hati, pemberi anugrah, Anugrah pemberian Dewa, pujaan, hormat pada-Mu, pemberi semua kemaha sidian Dewa dan Dewi, berwujud yadnya, pribadi suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan. 5. Sembah ke Lima, Sembah Tanpa Bunga atau Sembah Puyung. Isi Mantra OM, DEVA SUKSMA PARAMACINTYA YA NAMA SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM. Terjemahan OM, HORMAT DAN TERIMA KASIH PADA Mu yang tak terpikirkan yang maha tinggi dan maha Damai, Damai, Damai, Om.
2 Panca Sembah Tanpa menggunakan mantra. Doa panca sembah ini merupakan salah satu doa yang sering dilakukan oleh orang Hindu jika mereka melakukan sembahyang didampingi seorang Pandita atau pinandita atau juga kita lebih mengenal dengan nama pemangku. Maka dari itu doa ini lebih dikenal dengan nama mantra panca sembah pemangku.
Berikut ini Urutan Mantra Panca Sembah serta mantra Dupa dan Bunga yang umat Hindu lakukan dalam persembahyangan. Sebelum melakukan persembahyangan dengan menggunakan sara bunga atau dupa maka ada doa atau mantra yang biasa dibacakan untuk sarana bunga dan dupa tersebut. Setelah membacakan doa untuk bunga dan dupa selanjutnya melakukan Puja Tri Sandya, Puja Tri Sandya adalah matram dalam agama Hindu di daerah Bali dan wilayah Indonesia pada umumnya. Untuk pelaksanaannya mantram ini dilakukan dalam tiga waktu, yakni di pagi hari saat matahari terbit, kemudian siang hari dan sore hari kemudian dilanjutkan dengan melakukan mantra panca sembah atau kramaning sembah. Dikutip dari Tahapan persembahyangan Hindu, Berikut ini penjelasan mengenai tata cara lengkap dengan bacaan doa dalam tahapan persembahyangan umat Hindu Tahapan Persembahyangan 1. Mantram Dupa Oṁ Ang dupa dipāstraya nama swāha Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa/Brahma tajamkanlah nyala dupa hamba sehingga sucilah sudah hamba seperti sinar-Mu. 2. Mantram Bunga dan Kawangen Oṁ puspa dantā ya namah swāha Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, semoga bunga ini cemerlang dan suci. 3. Duduk dengan tenang, dan setelah suasananya tenang ucapkan mantram Oṁ prasada sthiti sarira siwa suci nirmalāya namah swāha Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa, dalam wujud Hyang Siwa, hamba-Mu telah duduk tenang, suci, dan tiada noda. 4. Lakukan Pranayama Menarik nafar Puraka Oṁ Ang Namah Oṁ Sang Hyang Widhy Wasa dalam aksara Ang pencipta, hamba hormat Menahan nafas kumbaka Oṁ Ung Namah
Setelahmelakukan Puja Tri Sandhya prosesi persembahyangan berikutnya adalah Panca Sembah atau Kramaning Sembah. Panca Sembah terdiri dari : Muspa Puyung dua kali saat pembuka dan Penutup dan tiga kali menggunakan srana sembahyang seperti bunga atau kewangen. Berikut adalah prosesi dan penjelasan mantram kramaning sembah. Panca Sembah: Sembah puyung, dengan tangan kosong (tanpa bunga): pusatkan
- Panca Sembah merupakan ritual doa umat Hindu sebagai wujud Bakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam Persembahyangan Agama Hindu, Ada lima urutan untuk melakasanakan mantra Panca Sembah atau Kramaning Sembah. Dalam melaksanakan Panca Sembah atau Kramaning Sembah ini sangat sakral sehingga ketika melakukannya tidak boleh keliru. Adapaun hal yang wajib di bawa dalam melaksanakan Panca Sembah atau Kramaning Sembah adalah bunga, kwangen dan dupa. Agar kalian tidak keliru untuk melaksanakan mantra panca sembah atau kramaning sembah, di artikel ini kami akan mengulas tentang mantra panca sembah atau kramamaning sembah. Dikutip dari mantra Hindu, Bacaan serta urutan Mantra Kramaning Sembah atau Mantra Panca Sembah, berikut bacaan mantra panca sembah atau kramaning sembah yang benar lengkap dengan artinya 1. Sembah Tanpa Sarana atau Sembah Puyung Mantra OM , ATMA TATTVATMA SUDDHAMAM SVAHA. Arti Om, Atma atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba. 2. Sembah ke dua yaitu Menyembah Sanghyang Widhi Wasa sebagai Sanghyang Aditya dengan sarana bunga putih. Mantra OM, ADITYA SYA PARAM JYOTI,RAKTA TEJA NAMO STUTE,SVETA PANKAJA MADHYASTABHASKARA YA NAMO STUTE. Arti Om, Sinar Surya yang maha hebat, Engkau bersinar merah, hormat pada- Mu. Engkau berada di tengah- tengah teratai putih. Hormat padaMu pembuat sinar. 3. Sembah ketiga menyembah Sanghyang WIdhi Wasa sebagai Ista Dewata dengan Sara Kwangen atau bunga warna-warni. Mantra OM, NAMO DEVA ADHI STHANAYA,SARVA VIAPI VAI SIVA YA,PADMASANA EKA PRASTISTAYA,ARDHANARESVARYAI NAMONAMAH. Arti
c Sembah kehadapan HyangWidhi sebagai Ista Dewata pada hari dan tempat persembayangan. Ista Dewata artinya Dewata (pewujudan Tuhan) yang dipuja pada kwatu persembahyangan saat itu.d. Sembah kepada Hyang Widhi seagai pemberi Anugrerahe. Sembah Puyung, Sebagai Penghormatan pada dewa yang tak terpikirkan yang Maha Tinggi dan Ghaib.
functioni,s,o,g,r,a,m{i['GoogleAnalyticsObject']=r;i[r]=i[r]function{ i[r].q=i[r].q[].pusharguments},i[r].l=1*new Date;a= m= }window,document,'script',' ga'create', 'UA-59619648-1', 'auto'; ga'send', 'pageview'; Ir para o conteúdo CONTRIBUA CONOSCOÁREA DO MISSIONÁRIO Três princípios para repensar a liderança, o discipulado e a missão Por Phelipe Reis A pandemia não deve nos surpreender. Ela não será a última. Faz parte das dores de parto escatológicas, reveladas por Jesus nos evangelhos Mateus 24. Lucas 21; Marcos 13. Neste cenário, líderes e pastores devem ensinar a igreja a ter equilíbrio, caminhando com fé e prudência. Além disso, é preciso discernir a pandemia como uma época de oportunidade – o Kairós de Deus. As palavras acima resumem a introdução de Edmund Chan, em sua palestra no Encontro Sepal 2020. Baseado em Miquéias ele abordou princípios que podem ser aplicados à liderança e ao discipulado, nestes tempos de pandemia. Chan explica que, determinado por Deus, o Kairós é uma janela estratégica, em um tempo designado, com oportunidades para uma colheita divina. Para ele, a pandemia pode ser potencialmente o melhor momento da igreja. É um momento decisivo para o arrependimento e para renovar o compromisso com o evangelho de Jesus Cristo. A questão que se coloca não é o que podemos fazer, mas sim o que precisamos fazer. Alguns líderes querem chegar a resultados rápidos, mas os melhores líderes aprendem a identificar o que realmente importa, olhando para o resultado final. Em Miqueias há três princípios cuja prática aumenta a eficácia do discipulado e a capacidade de liderança. 1. Não confunda as marcas de sucesso no mundo com a medida de sucesso de Deus Os padrões de Deus estão em Miqueias O primeiro é praticar a justiça; em outras palavras significa “viver de modo a fazer o que é correto diante de Deus, com os nossos semelhantes”. O conceito de justiça carrega duas ideias inerentes o que é legalmente adquirido e o que é partilhado por direito. Em termos do que é adquirido estão o que é adquirido legalmente e o que não é; em relação ao que é compartilhado, há uma referência especial à justiça para com os pobres, os marginalizados e os desfavorecidos. Neste sentido, praticar a justiça tem a ver com não ter ganhos injustos e não reter o que possui enquanto os outros precisam. Para o trabalho prático, a justiça pode ser resumida em três regras se não é seu, não aceite ou pegue; se não é verdade, não fale; se não está certo, não faça. Caminhar na prática da justiça é um desafio constante, pois somos pecadores e falhamos mesmo quando nos esforçamos para fazer o nosso melhor. É preciso ter uma postura diária de confissão de pecados e arrependimento, bem como o entendimento de que precisamos uns dos outros. O discipulado, a vida cristã, a liderança não é uma jornada solitária. Precisamos uns dos ouros. Temos que caminhar juntos, para que a sua força cubra a minha fraqueza e a minha força cubra a sua fraqueza, e ao caminharmos juntos para manter a justiça em nossa vida. 2. Não confunda defesa com ação Quando a bíblia diz “ame a bondade” ou “ame a misericórdia”, a ideia está relacionada com compaixão, que não pode ser confundida com preocupação. Uma coisa é “estar preocupado com os fracos, doentes e pobres”, outra coisa é ter, dentro de si, compaixão por eles. Defesa movida por preocupação é diferente de ação movida por compaixão. A igreja tem substituído a ação por mera defesa. É fácil subir no púlpito e falar que temos que evangelizar, mas há poucos que realmente se engajam na evangelização pessoal. A liderança não é falar ou defender uma causa, liderança é agir movido por compaixão. 3. Não confunda alcance com avivamento Influência, alcance e extensão do ministério, tudo isto faz parte do crescimento, mas não podem ser confundidos com avivamento. Quando a Bíblia fala em “caminhar humildemente com o Senhor”, a ideia é de dependência de Deus. O crescimento, o alcance, o progresso, geram orgulho no coração, pois podem ser produzidos com a tecnologia, por exemplo. Já o avivamento gera humildade, pois ninguém pode produzir o avivamento, só Deus. O propósito de Deus para o líder não é que ele faça a diferença no mundo. O que Deus deseja é usar o líder para transformar o mundo. Para isso, é preciso humildade, pois deve-se contar com os outros e depender de Deus. Ou seja, transformar o mundo é um avivamento que só Deus pode produzir, usando pessoas que contam com a ajuda de outras – isso gera humildade. A sombra da cruz Para praticar a justiça, agir com compaixão e caminhar humildemente com Deus é preciso viver sob a sombra da cruz de Jesus Cristo, pois só na cruz de Cristo é possível encontrar a justiça, a misericórdia e a atitude de um Deus que esvaziou, se humilhou e morreu por nós. ____________ * Texto baseado na palestra de Edmund Chan, no Encontro Sepal 2020. ** Phelipe Reis é jornalista e colaborador de conteúdo para a Sepal. Compartilhe em suas redes! Postagens Relacionadas Page load link Ir ao Topo
KramaningSembah (Panca Sembah) Urutan sembahyang ini sama saja, baik dipimpin oleh pandita atau pemangku, maupun bersembahyang sendirian. Jika dipimpin oleh pandita yang sudah melakukan dwijati, ada kemungkinan mantramnya lebih panjang. Kalau hafal bisa diikuti, tetapi kalau tidak hafal sebaiknya lakukan mantram-mantram pendek sebagai berikut
PEDOMAN DAN CARA Berdoa Hendaknya BAKTI KITA TIDAK Mansukh Intern setiap pemujaan seyogiannya kita mengerti tata prinsip yang ditetapkan, semoga segala apa yang menjadi keinginan kita, dapat tercapai secara maksimal. Sahaja apa yang akan disampaikan dibawah ini sangat anak kunci sekali sifatnya. Untuk itu kami sampaikan kepada semua pembaca agar bertenggang menggunkan ramalan yang siasat ini. Semasih kita ingin melakukan tuntutan, keselamatan diri dan batih semuanya urut-urutannya adalah a. Sebutkan suatu persatu b. Harap hadir ditempat kita melakukan pemujaan masing-masing pelinggih c. Selepas kita anggap hadir semuanya, lalu kita suguhkan dengan diawali rasa bhakti sesuai dengan sesajian yang kita haturkan d. Mohon apa yang kita inginkan e. Sebutkan semuanya dan dipersilahkan kembali ke kahyangannya masing-masing. Untuk jelasnya ikutilah prosesesi begitu juga dibawah ini. Prosesi buat seorang bhakta dalam melakukan persembahyangan 1. Japa, Kidung Warga sari sejenisnya; 2. Semua ancang di saban pelinggih dan bhakta praktisi sudah siap; 3. Puja Tri Sandhya 4. Panca Hormat, disinilah kita melakukan urutan prosesi pendewaan a. Hormat Puyung, dengan mantranya; b. Khidmat mohon Pesaksian yang ditujukan kepada sang Hyang Siwa Raditya, di kuti dengan mantra pesaksian, sesuai dengan mantra kedua dalam panca sembah; c. Sembah kepada 4 tingkat pemujaan aywa wera = Jangan disampaikan kepada yang tidak bersangkutan Ratu Sang Catur Sanak rahine mangkin titiang ngaturang bhakti kemit Beli/Mbok sesuaikan dengan diri pemuja jika laki ucap Beli, dan bila perempuan ujar mbuktitiang bakti lantaran titiang bakti titiang ngaturin sang empat sanak marupa …….Beli nunas mangda malingga cincin palinggihan si catur sanak ring Pelinggih Panglurah. Pangeran Hyang Pekak, Hyang Kompyang, prabu Dewata-raja Dewati, hyang kawitan soroh … sebutkan kawitan kita koteng,Sang Hyang tiga sakti, bhatara Hawa-bhatara Ibu sane ngempu sikian titiang, mangkin titiang ngaturin cokor iratu mangde malinga-malinggih ring pelinggih Rong Tiga/Kemulan. Titiang bakti ring iratu, lantaran titiang bakti titiang ngaturang …. sebutkan sesajian kita Ratu Dewa Brahma, betara Wisnu, dewa Prajapati mangkin titiang ngaturang bakti, ledang cokor iratu malingga ring padmasari, titiang bakti gelang-gelang cokor iratu, lantaran titiang bakti titiang ngaturang … sebutkan sesajian kita Ratu Sanghyang Dewata Nawa Sanga Iswara, Misora, Brahma, Ludra, Maheswara, Sangkara, Wisnu, Sambu, Siwa lan Hyang Luhuring Dewata si Hyang Samodhaya. Rahine mangkin titiang bakti ring cokor iratu, ledang cokor iratu malingga gelang-gelang padmasari, lantaran titiang bakti titiang ngaturang … sebutkan sesajian kita; Ratu Sang Hyang Tunggal, Ida Sang Hyang Widhi, rahine mangkin titiang ngaturang bakti, sweca ledang cokor iratu malingga gelang-gelang Sebutkan sesajian kita seperti mana Daksina, sarining canang konsentrat, sarining dupaDi ikuti aji-aji ngelinggihan, sesuai dengan mantara ke tiga n domestik panca sembah. Mohon waranugraha Sebutkan sekali lagi kepada keempat tinggi seperti mana point diatas, masing-masing kepadanya, yening wenten swecan iratu ring sikian titiang lan kulawargan titiang sareng sami recup lungsur swecan iratu mangkin mangde titiang lan kulawargan titiange ngemangguhang ……. sebutkan keinginan tiap-tiap bakta. Di ikuti mantran Panugrahan. d. Mengembalikan Si Catur Sanak, Hyang Bengal-Hyang Kompyang dst, Sang Hyang Tiga Desa, Dewata Nawa Sanga, Luhuring Dewata, Sang Hyang Tunggal-Sang Hyang Widhi.Sebutkan sekali lagi masing-masing dan setiap tingkatan, titiang nunas geng rna sinampura dwaning ketambetan titiang. Mangkin Cokor Iratu aturin titiang mewali cincin Kahyangan Cokor iratu soang-soang. Diikuti mantra Pengaksama sembah kelima n domestik panca sembah 5. Dilanjutkan nunas tirtha dan bija, serta di iringi dengan penduduk sari dan takdirnya tidak makekidungan lakukan introspeksi diri sejenak dalam lever. Lebih lanjut di tutup dengan pramasanti.
eAuB. lac74r4626.pages.dev/18lac74r4626.pages.dev/167lac74r4626.pages.dev/366lac74r4626.pages.dev/308lac74r4626.pages.dev/7lac74r4626.pages.dev/185lac74r4626.pages.dev/182lac74r4626.pages.dev/145lac74r4626.pages.dev/276
cara memimpin persembahyangan panca sembah